Pemain : Asa Butterfield, Jack Scalon, Amber Beattie, David Thewlis, Vera Farmiga, Richard Johnson, Sheila Hancock, Rupert Friend, David Hayman, Jim Norton, Cara Horgan Sutradara : Mark Herman Produser : David Heyman, Mark Herman, Rosie Alison Produksi : BBC Films Tahun : 2008
Film ini diangkat dari novel John Boyne, seorang penulis novel asal Irlandia, dengan judul yang sama. Di dalam film ini, sutradara tidak menggunakan artis-artis yang terlalu terkenal di dunia internasional, tetapi akting mereka mampu mendukung cerita novel seorang anak Jerman berusia 8 tahun. Film drama-history yang memukau melalui tutur cerita anak usia 8 tahun. Kita akan merasakan, perasaan ngeri sebuah kamp pemusnahan Nazi Perang Dunia II.
Penggarapan yang apik membuat film ini sebagus novelnya. Bagi yang sudah membaca novelnya, akan “gregetan”. Film ini didominasi oleh tuturan anak laki-laki berusia 8 tahun, yang satu anak dari seorang komandan Nazi, yang lainnya anak Yahudi yang tinggal di camp. Dramaturgi cerita jujur dan polos, diungkap oleh setiap tokoh yang berperan didalamnya. Bagi yang belum baca novelnya, akan bertanya-tanya apa yang membuat film ini mampu dihargai sebagai film independen dalam BIA (British Independent Award) dan CIFA (Chicago International Film Award), sesukses film Beautiful Life. Kejadian nyata film ini mengenai perseteruan Nazi dengan Yahudi dari sudut pandang mata anak-anak usia 8 tahun.
Benang merah film berhasil dibangun oleh 5 menit pertama – suasana kota Jerman di jaman Nazi, profil keluarga Komandan Nazi, suasana tahanan kota hingga akhirnya Ralf (David Thewlis) dan istrinya Elsa (Vera Farmiga) akan pindah dari Berlin. Mereka akan pindah ke pedesaan bersama kedua anak mereka, Gretel (Amber Beattie) 12 tahun dan Bruno (AsaButterfield) 8 tahun .
Ralf dipromosikan menjadi komandan sebuah kamp konsentrasi Nazi, secara Auschwitz. Pada suatu hari, ayah Bruno ditugaskan ke daerah pelosok untuk mengawasi camp tahanan untuk orang-orang Yahudi. Dengan demikian, sang Jenderal dan keluarganya, termasuk Bruno harus pindah rumah ke daerah sekitar camp tersebut, walau letaknya masih cukup jauh dari camp. Di kota, Bruno hidup nyaman dan merasa berat untuk pindah, Bruno tidak mengerti apa-apa dengan situasi yang ada karena dia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi. Dan Bruno cukup dibahagiakan oleh rumah baru yang berhalaman luas.
Jiwa petualang Bruno muncul karena dia bosan di rumah sendirian tanpa teman. Dari sudut jendela gudang, Bruno menyelinap penasaran keluar rumah. Bruno bisa menerobos penjagaan rumah yang ketat dan berhasil bermain menyusuri hutan-hutan hingga sampai di perbatasan camp. Awalnya, Bruno hanya penasaran ingin bermain-main di sebuah peternakan dekat rumah, ternyata yang dianggap “perternakan itu” sebenarnya kamp Nazi.
Di perbatasan itulah dia berteman dengan anak Yahudi yang menjadi tahanan, Shmuel. Dalam pikiran Bruno Shmuel hidup senang di dalam camp tersebut karena banyak “teman lainnya yang berseragam” yang bisa diajak bermain bersama. Dengan menggunakan “piyama” yang sama. Dalam pikiran Bruno “baju seragam itu” keren dan dia rela berkorban tinggal bersama Shmuel di balik pagar listrik. Film ini murni film drama tanpa ada adegan yang sadis dipertontonkan. Begitu selesai nonton film ini kesan yang didapat adalah “makanya, hentikan penindasan!” atau “peperangan tidak baik dilakukan dengan melibatkan anak-anak!”. Pesan cerita film ini berakhir pada sebuah perenungan orang dewasa. Penindasan? Perang? tidak akan menyelesaikan masalah.
PS : Auschwitz adalah sebuah nama untuk mengidentifikasikan kekejaman Nazi. Nama ini diambil dari versi bahasa Jerman,Oświęcim, yang juga merupakan nama sebuah kota di Polandia, terletak 60 km barat daya Krakow. Pada tahun 1979 Kamp ini masuk ke dalam salah satu daftar Situs Warisan Dunia UNESCO, untuk menghorma ti para tawanan yang sudah meninggal. Dan bangunan ini menjadi bukti kematian orang yang tak terhitung jumlahnya, memori penting untuk seluruh umat manusia mengenai adanya pembantaian, kebijakan rasis dan kebiadaban.



