Tertawa dan bercanda bersama adalah cara
manusia untuk mempererat hubungan.
Bayangkan betapa runyam hidup seseorang yang tidak pernah tersenyum dan tertawa. Tersenyum dimulai dari adanya koneksi yang menunjukkan daya tarik interpersonal, sementara tertawa dimulai dari kemampuan individu untuk melihat sisi lucu dari sesuatu yang kasat mata.
Hanya pada saat individu berkembanglah, ia bisa mempunyai perspektif terhadap hal yang tidak kasat mata, lebih abstrak, dalam, dan melihatnya dari sudut pandang lucu,
gembira dan tidak sendu ataupun serius. Orang yang banyak tertawa memang
cenderung lebih “happy” dan optimistis. Namun, tertawa, baik mengenai diri
sendiri atau terhadap suatu situasi tentunya tidak berlaku bila tawa itu
diwarnai dengan sinisme yang berlebihan ataupun pelecehan ke orang lain, apalagi
ke diri sendiri.
Olok olok yang kita sering dengar, terutama
akhir-akhir ini, rasanya sulit digolongkan pada olok-olok yang sehat, karena ia
terasa getir, sinis bahkan tidak menunjukkan ‘esteem’ atau penghargaan diri. Orang
ber-esteem rendah kita kenal
sebagai orang yang mempunyai kebiasaan untuk menilai negatif diri sendiri, tidak
menyukai tantangan, malas bertindak, dan banyak tampil sebagai pengkritik
tajam bahkan melecehkan orang lain. Tentunya kegiatan ini bukan bercanda lagi,
apalagi disebut “sense of humor”.
Bisa jadi kita berpikir bahwa olok-olok
atau sindiran adalah bentuk umpan balik bagi pihak lain untuk mawas diri dan
memperbaiki diri. Namun, olok-olok tentu saja tidak bisa kita sebut masukan,
karena ia tidak tertuju langsung secara ‘man
to man’ pada orang yang kita maksud. Selain olok-olok tidak pernah
menjadikan situasi lebih baik, kita yang mengolok-olok juga jadi manusia kerdil
karena seolah “lempar batu sembunyi tangan”, akibat ketidakmampuan kita untuk
‘pasang badan’ dan mempertanggungjawab kan pendapat dan masukan kita secara
ksatria dan elegan.