Life begin fourty? My opinion is No. Untuk banyak orang hidup itu dimulai di pagi hari. Ya, pernyataan ini beralasan. Setiap hari adalah babak baru dalam hidup.
Pelajaran pertama di subuh hari adalah, “Anggi, ayo bangun…udah adzan. Bagun, ayo sholat subuh.” Rumahku kini jauh dari kota. Posisinya, di gerbang pos depan itu adalah Jakarta Selatan, masuk komplek udah Kota Tangerang. Keterangan ini bersumber dari kode nomer telfon, 731 dan peta daerah kota Jakarta dot com.
Aku jadi anak sulung di rumah ini bersama ibu. Sejak papa meninggalkan ibu di bus kota yang mendadak amnesia ada janji di kantor dengan seorang teman. Ibu pulang bersama 3 krucil, satu masih dalam buaian. Bayi itu lucu sekali, mirip bantal bermuka Ahong. Kakak laki-laki-ku tinggal nemenini papa. Dia cucu kesayangan Nenek di Tebet. Rumah baru kami di Tebet itu sejujurnya seperti RuKan. Papa membuatnya seperti itu.
Telfon belum masuk saat itu. Papa nggak tegas memutuskan kasus amnesia beliau. Ibu sebenarnya tidak perlu membesar-besarkan permasalahan teman akrab. Namun, menjadi piatu di usia 14 tahun punya efek sendiri. Teman wanita penyebab amnesia Papa juga berasal dari wanita bertabiat buruk. Kontribusinya negatif. Saat ibu ditinggal ibunya, jaman gerakan Permesta. Seluruh Indonesia sedang berguncang. Dan Putri bungsu kakek berjarak usia 10 tahun dengan abangnya, dititipkan di Jakarta pada saudara – ninik-mamak Pujangga di daerah Condet.
Tinggal dengan beberapa keluarga dekat almarhum Ibu beliau, Ibu jadi punya keluarga yang sangat besar. Dari silsilah keluarga seperti ini, aku jadi anak perempuan bungsu, diantara bungsu-bungsu lainnya. Kakek, seorang yang disegani oleh orang-orang di sekitar, panggilannya Pak Datuk. Di kampung dan di kota kami. Keakraban kami, pernah diprotes cucu mama’ di Sumatra, aku membiarkan beliau memilih. Namun, beliau mempertahankan untuk tinggal bersama kami. Salah satu alasannya, kalo diledekin aku cuma ketawa dan mereka menyukai aku apa adanya.
READY-STEADY-GO
Sejak sekolah berasama Adik, aku punya tugas ngemong. Kakakku sudah mencontohkan beberapa tahun sebelumnya. Sifatku ke kakak adalah ikan sapu-sapu, nempel aja. “Iiiih, kemana aja maunya ikut. Temen gue, dianggap temen dia juga.” Aku baru punya temen perempuan kelas 4 SD. Waktu kelas satu pernah punya, cuma.. pindah ke Medan, di jalan PWS. Aku belum nemu lagi yang seperti Nela.
Suatu sore sebelum kami terpisah. “Mas, aku bosen layangan ini, cuma garis-garis polanya. Aku gambar sendiri aja. Nanti kalo udah jadi, kita main bareng lagi.” Terus-terusan pulang sekolah, mampir ke tukang jual layangan, pilihanku layangan sepolos mungkin. Beli 2, kalo mas mau yang ada gambar aku, nanti dikasih.
Habis nerjain PR, aku sepedaan sama mas-ku. Alih-alih nggak mau tidur siang, aku nyaipin kadus, air minum dan satu bungkus chiky dan wafer Superman. Kakek udah aku pamitin. Adik lagi tudur. Semoga garasinya tidak berdecit dan membangunkan adik. Berhasil.
Mas, layanganku bagus ya… Aku pede aja baru bisa gambar muka kucing pake bunga. Aku warnain pake crayon. Dalam jarak yang cukup jauh, tiupan angin bisa membuatnya melayang bebas dan menari-nari di udara. Ada gundukan tanah di sebelah, aku ambil kardus untuk main prosotan. Aku terbiasa diomelin ibu. Susah nyuci bajunya, alasan yang selalu aku dengar. “Jangan main di gundukan tanah merah lagi ya.”
Setelah main prosotan, aku melihat langit jam 5 sore di sebelah kakakku yang berbaring melihat layangannya. “Mas, layangan aku bagus nggak?”
“Bagus.”
Besok sore, aku gambar apa saja yang aku bisa. Dan aku kasi ke kakakku. Beliau pernah ngasih pistol-pistolan kayu dia. Biasanya pelurunya karet. Lumayan buat jepret anak nakal yang nggak tau diri. Aku suka diisengin.
Setiap hari adalah menunggu waktu tidur siang. Main sama kakak. Kadang, aku nggak makan siang. Pas, sore lapeeeer.. aku takut kurus haha.. untuk menjaga kestabilan tubuh, aku makan telur ceplok dengan nasi dikecapin. Trus kalo ibu pulang makan lagi. Setelah itu makan ager atau pudding di kulkas yang sudah dingin.
Kakek bukan orang galak, cuma beliau keberatan sekali jika magrib aku belum pulang. Beliau pelihara ayam sepasang, namun dalam beberapa bulan, ayam kakek sudah sampai belasan. Aku,,, sebel sama kakek (Nek Aki), masa’ kalo pulang harus bareng ayam? “Anak gadis harus udah di rumah sebelum ayam pulang”, begitu katanya.
Sambil tiduran telungkup memeluk teras yang dingin, aku suka liat anak ayam yang gemesin. Ayam lainnya cuma nengok-nengok aja, matanya di samping. Ada yang berkokok, ada yang kotek-kotek dan ada yang piyek-piyek. Mereka liat-liat aku mau kenalan. Kalo ketemu di jalan, bisa pulang bareng.
Aku masuk ke rumah trus mandi sore. Ambil beras dan mulai nyebar-nyebar. Kerumunan ayam itu mendekat dan aku bisa elus-elus bulunya. Ada yang takut tapi ada yang suka juga. Trus aku ambil. Aku peluk-peluk deh. Rutinitas beberapa sore seperti itu. Rutinitas lainnya, setiap lebaran ada yang dipotong. Aku suka opor ayam. Ibu suka masak dan punya panci dengan bermacam ukuran dan beberapa fungsi.
Mungkin aku sedih ayam kesakitan meregang nyawa dan berdarah-darah didalam telungkup ember besar tempat mandi saat aku bayi hingga balita. Aku ngeloyor saja ke dalam rumah sambil teriak ke tetangga rumahku sebelah kanan.
“Ilus.. Ilus.. ayam aku dipotong dua. Nanti sore main ke sini ya..”
Yang di panggil, nongol dari jendela. “Anggi udah mandi belum? Aku mau ke sana. Aku udah mandi.”
Aku keluar pintu rumah. Buka pintu pager. Ilus masuk dan dua adik kembarnya ikutan liat ayam yang dipotong.
“Aku bilang, temen-temen ayamnya sekarang belum pulang. Tadi pagi mereka jalan-jalan. Yang dua ini diambil setelah mereka makan jagung tadi pagi.”
“Ilus mau main apa? Aku belum mandi, nonton unyil dulu ya..” Aku mandi nggak lama kok. Mereka duduk manis di ruang keluarga. Kakakku masuk dan mereka membicarakan tentang Gogle Godaikin. Kakakku bangun ku-terus mandi Kalo aku, bangun tidur ku-terus makan. Biar sikat gigi skalian, baru mandi, dan bersihnya dari ujung rambut sampe ujung kaki.
Aku punya pita Kimbery, aku suka pake pita sebagai bandana kalo lagi nggak dipake buat “Google Pink, action – berubah”
Sejak ada Ilus, aku bisa jadi anak rumahan. Nggak main panas-panasan keluar rumah. Jendela rumahku dan jendela rumahnya, bisa saling sapa. Aku tidak pernah menutup kordennya, kecuali malem. Gelap banget. Dibalik sana, di balik jendela ruang tengah, Ilus harus memanjat wastafel dapur. Dan ibunya nggak pernah ribut anak-anak laki-lakinya berjajar diatas wastafel yang kuat.
Anak laki-laki harus bisa memanjat dan tidak takut ketinggian. Aku suka memperlihatkan gambar-gambarku, cerita-cerita pulang sekolahku dan tempelan tensoplast dimana-mana. Luka-luka itu karena main sepeda off-road sama kakak. Dia udah bisa lepas tangan sambil sepedaan. Aku sering ikut-ikut dan ada jeritan perih untuk luka di sana sini.