Gloucewriter’s Weblog











{November 12, 2011}   punya webblog

Hobi nulis, punya.. kalo iseng kadang-kadang aja. tergantung konteksnya. Nyusun cerita bisa? nah, perlu latihan.

Cerita tahun lalu, setelah ikutan Asma Nadia, hobi nulis jadi beneran terfasilitasi. Punya blog 2, yang satu di blogger. Nah itu sebenarnya yang dipublish. Dan niatnya melatih stamina nulis setahun ini. Tiap bulan dibikin tema. Sering liat pengunjungnya juga, sampe 3000 lho.. Kecepatan angka ini berjalan cukup signifikan. dalam rentang waktu januari-sepetember udah 2000 yang mampir, namun yang disayangkan adalah satu artikel langsung upload mentah-mentah, lupa translet. Yang terjadi adalah oktober kemarin, beneran ga mampir blog yang di situ. Pas November, beneran ilang.

Maaf, blog di sonia-cutelady.blogspot.com telah dihapus. Alamat ini tidak tersedia untuk blog baru.

o-oo.. marahnya gimana ya? sedih pasti. jangan deh..kan bisa bikin lagi :) kan punya disini.. cuma, yang ini curcolan banget isinya. *dan akhirnya ga penting juga mikirin rahasia apa ga rahasia*. Disuruh fokus kali ya.. heg..heg..heg..

Karena niatnya ngatur stamina nulis, mari lanjutkan! Mari berkungjung ke sini.. beuh, sambil nyari-nyari foleder untuk nyari conten-yang pernah di save-di blog satunya..

Istilah kata “kadang kita dipaksa memilih jalan yang seharusnya kita temui sendiri” berlaku banget. udah pengalaman nulis, up date blog bisa 10 artikel ringan tiap bulan. Ada pengunjungnya *walaupun yang komentar cuma eymeeh hahaha~  selat sunda memisahkan kita, ledek-ledekan teuteup!* Ngulik sana ngulik sini, biar tambah akrab sama wordpress :)



{February 28, 2011}   Cerita Tentang Danau

Tiga ekor beruang kecil tampak berkumpul di depan ibu mereka. Beruang kakak beradik ini begitu asyik mendengarkan kata-kata wasiat yang disampaikan induk beruang yang mulai tampak tua.

 

”Anak-anakku, kini saatnya untuk kalian belajar tentang hidup. Tapi, ibu tidak bisa lagi menemani kalian. Ibu yakin, kalian sudah bisa membedakan, mana yang baik dan yang buruk,” jelas induk beruang di hadapan ketiga anaknya.

 

”Kira-kira, kemana kami bisa belajar tentang hidup, Bu?” tanya salah satu anak beruang.

 

”Kalian bisa pergi ke lembah hijau yang bersebelahan dengan hutan ini. Tapi…,” suara induk beruang terhenti.

 

”Tapi apa, Bu?” sergah si sulung kemudian.

 

”Kalian harus hati-hati, di sana ada danau yang punya pengaruh buruk. Jangan sekali-kali merasa nyaman di sana,” ungkap sang induk begitu serius.

 

Selepas perpisahan, ketiganya pun berangkat. Dari kejauhan, sang induk hanya mampu melambaikan tangan demi memunculkan kemandirian tiga puteranya.

 

Berbagai hal di perjalanan mereka alami. Mulai dari bertemu penghuni-penghuni hutan yang baik, hingga yang sangat sangar. Inilah mungkin yang dimaksud sang induk sebagai belajar tentang hidup.

 

Perjalanan mereka pun terhenti ketika sebuah danau membentang di hadapan mereka. Airnya begitu jernih, ikan-ikan segar melompat-lompat dari balik permukaan air danau. Tapi anehnya, hampir tak satu pun hewan darat yang berada di tepian danau.

 

Dan sontak saja, ketiga beruang cilik ini pun merasa haus. Genangan air danau yang tampak begitu segar, kian menghentak rasa dahaga mereka. Ketiganya pun menghambur ke arah tepian danau dan langsung mencicipi air yang tampak begitu segar. Kian dicicipi, rasa dahaga kian besar. Dan, dahaga pun berubah menjadi lapar yang luar biasa.

Tiba-tiba salah satu dari mereka seperti menyadari sesuatu. ”Hei tunggu. Bukankah ini danau buruk yang dimaksud ibu?” teriak si bungsu kepada dua kakaknya yang tampak sudah berada di tengah danau sambil memangsa ikan-ikan yang ada.

 

Si bungsu pun beranjak menjauh dari air danau. Teriakannya berkali-kali seperti tak terdengar kedua kakaknya. Tapi, si bungsu tak mau menyerah. Hingga, di luar dugaannya, kedua kakaknya tampak beringas. Mereka melempari si bungsu dengan sampah ikan yang sudah mereka makan.

 

 

Si bungsu pun tertegun ketika dari kejauhan, ia menangkap warna merah menyala dari sorot mata kakak-kakaknya. Sontak, ia pun berlari secepat yang ia bisa.

 

*** (kesimpulan)

 

Allah yang Maha Penyang, melebihi sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya, kerap mengingatkan kita melalui ayat-ayat Alquran (berupa peristiwa) tentang ’danau’ indah yang punya pengaruh sangat buruk untuk manusia.

 

’Danau’ indah itu bisa menenggelamkan kesadaran bahwa hidup ini hanya perhentian sejenak. ’Danau’ indah itu juga mampu membolak-balikkan mata batin kita hingga yang baik menjadi buruk, yang buruk menjadi baik, dan yang mestinya disayang menjadi harus dibuang.

 

’Danau’ yang tampak indah itu adalah perhiasan dunia yang mungkin selalu membuat kita nyaman.

 

sumber :

http://www.eramuslim.com/

(muhammadnuh@eramuslim.com)



{April 7, 2010}   My Lifes begin Twenty (1)

Life begin fourty? My opinion is No. Untuk banyak orang hidup itu dimulai di pagi hari. Ya, pernyataan ini beralasan. Setiap hari adalah babak baru dalam hidup.

Pelajaran pertama di subuh hari adalah, “Anggi, ayo bangun…udah adzan. Bagun, ayo sholat subuh.” Rumahku kini jauh dari kota. Posisinya, di gerbang pos depan itu adalah Jakarta Selatan, masuk komplek udah Kota Tangerang. Keterangan ini bersumber dari kode nomer telfon, 731 dan peta daerah kota Jakarta dot com.

Aku jadi anak sulung di rumah ini bersama ibu. Sejak papa meninggalkan ibu di bus kota yang mendadak amnesia ada janji di kantor dengan seorang teman. Ibu pulang bersama 3 krucil, satu masih dalam buaian. Bayi itu lucu sekali, mirip bantal bermuka Ahong. Kakak laki-laki-ku tinggal nemenini papa. Dia cucu kesayangan Nenek di Tebet. Rumah baru kami di Tebet itu sejujurnya seperti RuKan. Papa membuatnya seperti itu.

Telfon belum masuk saat itu. Papa nggak tegas memutuskan kasus amnesia beliau. Ibu sebenarnya tidak perlu membesar-besarkan permasalahan teman akrab. Namun, menjadi piatu di usia 14 tahun punya efek sendiri. Teman wanita penyebab amnesia Papa juga berasal dari wanita bertabiat buruk. Kontribusinya negatif. Saat ibu ditinggal ibunya, jaman gerakan Permesta. Seluruh Indonesia sedang berguncang. Dan Putri bungsu kakek berjarak usia 10 tahun dengan abangnya, dititipkan di Jakarta pada saudara – ninik-mamak Pujangga di daerah Condet.

Tinggal dengan beberapa keluarga dekat almarhum Ibu beliau, Ibu jadi punya keluarga yang sangat besar. Dari silsilah keluarga seperti ini, aku jadi anak perempuan bungsu, diantara bungsu-bungsu lainnya. Kakek, seorang yang disegani oleh orang-orang di sekitar, panggilannya Pak Datuk. Di kampung dan di kota kami. Keakraban kami, pernah diprotes cucu mama’ di Sumatra, aku membiarkan beliau memilih. Namun, beliau mempertahankan untuk tinggal bersama kami. Salah satu alasannya, kalo diledekin aku cuma ketawa dan mereka menyukai aku apa adanya.

READY-STEADY-GO

Sejak sekolah berasama Adik, aku punya tugas ngemong. Kakakku sudah mencontohkan beberapa tahun sebelumnya. Sifatku ke kakak adalah ikan sapu-sapu, nempel aja. “Iiiih, kemana aja maunya ikut. Temen gue, dianggap temen dia juga.” Aku baru punya temen perempuan kelas 4 SD. Waktu kelas satu pernah punya, cuma.. pindah ke Medan, di jalan PWS. Aku belum nemu lagi yang seperti Nela.

Suatu sore sebelum kami terpisah. “Mas, aku bosen layangan ini, cuma garis-garis polanya. Aku gambar sendiri aja. Nanti kalo udah jadi, kita main bareng lagi.” Terus-terusan pulang sekolah, mampir ke tukang jual layangan, pilihanku layangan sepolos mungkin. Beli 2, kalo mas mau yang ada gambar aku, nanti dikasih.

Habis nerjain PR, aku sepedaan sama mas-ku. Alih-alih nggak mau tidur siang, aku nyaipin kadus, air minum dan satu bungkus chiky dan wafer Superman. Kakek udah aku pamitin. Adik lagi tudur. Semoga garasinya tidak berdecit dan membangunkan adik. Berhasil.

Mas, layanganku bagus ya… Aku pede aja baru bisa gambar muka kucing pake bunga. Aku warnain pake crayon. Dalam jarak yang cukup jauh, tiupan angin bisa membuatnya melayang bebas dan menari-nari di udara. Ada gundukan tanah di sebelah, aku ambil kardus untuk main prosotan. Aku terbiasa diomelin ibu. Susah nyuci bajunya, alasan yang selalu aku dengar. “Jangan main di gundukan tanah merah lagi ya.”

Setelah main prosotan, aku melihat langit jam 5 sore di sebelah kakakku yang berbaring melihat layangannya. “Mas, layangan aku bagus nggak?”

“Bagus.”

Besok sore, aku gambar apa saja yang aku bisa. Dan aku kasi ke kakakku. Beliau pernah ngasih pistol-pistolan kayu dia. Biasanya pelurunya karet. Lumayan buat jepret anak nakal yang nggak tau diri. Aku suka diisengin.

Setiap hari adalah menunggu waktu tidur siang. Main sama kakak. Kadang, aku nggak makan siang. Pas, sore lapeeeer.. aku takut kurus haha.. untuk menjaga kestabilan tubuh, aku makan telur ceplok dengan nasi dikecapin. Trus kalo ibu pulang makan lagi. Setelah itu makan ager atau pudding di kulkas yang sudah dingin.

Kakek bukan orang galak, cuma beliau keberatan sekali jika magrib aku belum pulang. Beliau pelihara ayam sepasang, namun dalam beberapa bulan, ayam kakek sudah sampai belasan. Aku,,, sebel sama kakek (Nek Aki), masa’ kalo pulang harus bareng ayam? “Anak gadis harus udah di rumah sebelum ayam pulang”, begitu katanya.

Sambil tiduran telungkup memeluk teras yang dingin, aku suka liat anak ayam yang gemesin. Ayam lainnya cuma nengok-nengok aja, matanya di samping. Ada yang berkokok, ada yang kotek-kotek dan ada yang piyek-piyek. Mereka liat-liat aku mau kenalan. Kalo ketemu di jalan, bisa pulang bareng.

Aku masuk ke rumah trus mandi sore. Ambil beras dan mulai nyebar-nyebar. Kerumunan ayam itu mendekat dan aku bisa elus-elus bulunya. Ada yang takut tapi ada yang suka juga. Trus aku ambil. Aku peluk-peluk deh. Rutinitas beberapa sore seperti itu. Rutinitas lainnya, setiap lebaran ada yang dipotong. Aku suka opor ayam. Ibu suka masak dan punya panci dengan bermacam ukuran dan beberapa fungsi.

Mungkin aku sedih ayam kesakitan meregang nyawa dan berdarah-darah didalam telungkup ember besar tempat mandi saat aku bayi hingga balita. Aku ngeloyor saja ke dalam rumah sambil teriak ke tetangga rumahku sebelah kanan.

“Ilus.. Ilus.. ayam aku dipotong dua. Nanti sore main ke sini ya..”

Yang di panggil, nongol dari jendela. “Anggi udah mandi belum? Aku mau ke sana. Aku udah mandi.”

Aku keluar pintu rumah. Buka pintu pager. Ilus masuk dan dua adik kembarnya ikutan liat ayam yang dipotong.

“Aku bilang, temen-temen ayamnya sekarang belum pulang. Tadi pagi mereka jalan-jalan. Yang dua ini diambil setelah mereka makan jagung tadi pagi.”

“Ilus mau main apa? Aku belum mandi, nonton unyil dulu ya..” Aku mandi nggak lama kok. Mereka duduk manis di ruang keluarga. Kakakku masuk dan mereka membicarakan tentang Gogle Godaikin. Kakakku bangun ku-terus mandi  Kalo aku, bangun tidur ku-terus makan. Biar  sikat gigi skalian, baru mandi, dan bersihnya dari ujung rambut sampe ujung kaki.

Aku punya pita Kimbery, aku suka pake pita sebagai bandana kalo lagi nggak dipake buat “Google Pink, action – berubah”

Sejak ada Ilus, aku bisa jadi anak rumahan. Nggak main panas-panasan keluar rumah. Jendela rumahku dan jendela rumahnya, bisa saling sapa. Aku tidak pernah menutup kordennya, kecuali malem. Gelap banget. Dibalik sana, di balik jendela ruang tengah, Ilus harus memanjat wastafel dapur. Dan ibunya nggak pernah ribut anak-anak laki-lakinya berjajar diatas wastafel yang kuat.

Anak laki-laki harus bisa memanjat dan tidak takut ketinggian. Aku suka memperlihatkan gambar-gambarku, cerita-cerita pulang sekolahku dan tempelan tensoplast dimana-mana. Luka-luka itu karena main sepeda off-road sama kakak. Dia udah bisa lepas tangan sambil sepedaan. Aku sering ikut-ikut dan ada jeritan perih untuk luka di sana sini.



{March 1, 2010}   I..want notification

suatu hari yang ceraaah… gue dateng ke undangan temen. Temen baru ehe.. Baru kenalan dan langsung lengket. Hanya karena gue butuh dan gue meyakinkan sekali bagi teman baruku ini. Seorang teman yang mengenalkan kami terkenal sebagai orang yang “jago negosiasi” kalo di kosan dia dapet label MenkomInfo.

Cerita ini dimulai sejak akhir tahun 2007. Gue sebel banget sama kantor yang hobinya menahan perasaan. Uhmm.. what-ever. Udah ah, coba ngubungin orang-orang penting yang topnya sekalian. Gue rasa, dengan cara ini, “beliau-beliau” yang bisa disebut demikian. Tahap pertama adalah mencari second people “si top people-who they know”.  Perancangan second people bukan sembarangan juga, gue cari pemuda harapan bangsa yang bisa dibilang akan mengerjakan top project “beliau-beliau” ini.

MenkomInfo bilang, ketemu sama astradanya dulu ya.. dia udah bisa diajakin ngomong macem-macem. Istilah scenario-nya, owner emang susah ditemui. Dan setelah ketemuan sama astrada sekali, kali keduanya, baru bisa ketemuan sama owner. Wah, akhirnya bisa ketemuan sama pemuda harapan bangsa, that he said the owner.. beneran seperti kedengerannya. Orangnya kalem. Sangking kalemnya, dia nggak berani nyapa gue. Untung astradanya baik.

“Udah kenal Adi, belum?”

“Belum. (dalam hati, emang yang mana orangnya?)”

Pria yang dari tadi ngeliatin gue sambil gigit bibir bagian atasnya itu, akhirnya mengulurkan tangannya. Ya, hanya ada pria itu dihadapanku sejak tadi.

“Adi”

“Anggi”

Dalam hati, gue punya dua persepsi, dia athun atau adi siy… Di novel, si-kesatria-sembilan-matahari ini, orangnya mudah mencair dan memandang ramah orang yang ada dihadapannya. Kok kali ini, dia hanya melihat kearahku-agak tajam – hobi pengamatan juga nih orang. Gue diliatin dari atas sampe bawah, berkali-kali namun seolah-olah ada kesan punya aura gede. Si astrada yang ramah-Jejaka Oke-beberapa hari ini, dengan potongan rambut yang gue suka, melanjutkan penawaran kerjasama bikin content, cinta Indonesia-ku melalui Makasar kita ini – Aku kenalan. Adi nama panggilan terhormat dia. Athun.. huahaha.. positioning banget!

Di akhir hari itu, gue dianter sama owner sembilan matahari sampe kampus ITB. Nggak jauh, se-jalan ke arah kosan gue. Dan prinsip pertemanan hangat sudah terasa hangat. Hari itu ada yang sakit, masuk Brome – RS Boromeus. Kejadian ini adalah awal tahun 2008. Gue waktu itu pulang. Mobil cuma muat 5 orang. Astrada kita nggak ikut. Alasannya waktu itu, emang dia hobi kerja dan bukan tipe yang kenal banyak orang. Status dia : “saya tidak suka keramaian”. Oke-Jejaka.. oke. Kapan-kapan kita ketemu lagi :)

Sambil melakukan adegan picisan India, gue dan Jejaka oke, bersandar pada daun pintu yang sama, cuma beda posisi aja. Owner kita ngeliatin dan diam sambil menunggu keputusan jejaka oke. Mereka sifatnya berbeda sekali. Owner kita mungkin bingung juga, baru dua kali ketemuan kok, mereka sepertinya sudah saling akrab begini. Chemistry-nya kena kali ya.. Gue santai aja. Pra duga tak bersalah – gue seneng bisa diterima diantara kalian. Gue akan sering ke sini :)

Kesaktria-Sembilan Matahari-ku itu memperlihatkan wajah, “Duh, adik manisku, ayo pulang, kuantar sampai suatu tempat yang tidak begitu jauh dari tempat kosmu”. Aku duduk manis di sayap kiri belakang, posisi duduk diagonal degan supir “kita” memudahkan dia melihatku. Perasaanku senang namun tetap siaga. Saat ini, aku bisa mengenalnya. Bukan hanya dari MenkomInfo, bukan lagi dari novel Adenita yang masih berupa draft, dan yang pasti bukan juga dari ingatan masa lalu.

?zhidmkrnynm

Kenapa masa lalu jadi ikutan juga? Yah.. namanya juga anak muda, kalo nggak unik males di-inget-inget lagi. Masalahnya dulu, waktu Pasar Seni ITB tahun 2000, aku pernah ketemu dia di labirin. Aku cuek aja, dia ngebosenin, suka sama cewek bermateri<dibaca:cewek tajir>. Sisi bagusnya, mata dia bagus juga. Gue dan gembolan “anak-anak tajir dari Jakarta” suka sama mainan yang mereka bikin. Mengingatkan kita dengan permainan masa kecil kita. Jaman dulu – bokap gue sering ngajak main kayak begini. Main petak umpet. Bedanya, rute mainan ini lebih kecil dan minitaur ini cukup memuasakan kita berkali-kali untuk masuk lagi dan lagi – sambil cekikikan. Pria ini – dan teman-temannya, 9waktu itu0 yang bikinin mainan ini. Kita pisah karena acaranya sudah selesai. Aku pulang tanpa beban. Cuma satu yang aku ingat, lima tahun lagi ketemu-an ya di  Pasar Seni ITB :)

Tepat 5 tahun, aku kembali lagi ke Bandung, setidaknya ITB udah di depan mata. Aku akan sering datang ke sini. Kampusnya romantis. Bentuk arsitekturnya mirip galangan kapal. Lokasi studio antar prodi, saling dekat. Namun, keadaannya sudah banyak berubah. Aku sudah lulus. Saat ini saya  seorang PNS dan mungkin saja kita ketemu-an bukan hal mudah. Telah banyak yang terjadi, aku tidak mengenal siapa nama dia. Aku tidak pernah memberikan nomer hape, aku sudah berjilbab saat ini, nggak ada lagi kelompok anak-anak tajir teman-temaku 5 tahun lalu – aku sudah berbeda dengan aku yang dulu. Aku hanya tersenyum mengingat hal-hal lucu waktu itu. Pe-de abeezzz di panggung komtemporer dan aku pengisi tunggal panggung untuk beberapa menit disana. Mempresentasikan sesuatu yang kontemporer.

Cerita masa lalu, membuat perubahan pada raut mukanya. Mungkin dia sedang meningat sesuatu. Akupun demikian. Namun, aku tidak mengingat apa-apa. Aku hanya memberi solusi seandainya dibutuhkan. Di sembilan matahari, aku punya tambahan teman baik, Lya namanya. Dia satu tim juga denganku dan si Jejaka Oke. Kita baru bertiga. Dan aku senang dengan keberadaan kami. Aku pulang dengan Lya, dia satu-satunya teman perempuan yang aku punya. Lya sangat manis denganku. Aku merasakan suatu yang aneh di mata Jejaka Oke. Dia bilang aku dan Lya punya kesamaan yang signifikan, masuk kans sebagai aktor film Jihad. Haha… dia ngerti maksud jihad apa? Lya dan Aku memang berjilabab dan well-orginized. Yang lainnya, mungkin kita lihat proses selanjutnya nanti.

Rombongan yang mau dijenguk ke rumah sakit, dateng di luar jam besuk. Aku pernah melakukannya, tepatnya kemarin. Aku datang lewat ruang bermain anak dan masuk berdua-berdua. Aku tidak ikut. Hitungan masuk kalian sudah cukup. Aku pulang saja. Intruksi-ku sudah cukup menjelaskan, pak satpam tidak akan curiga. Sudah jam 7 lebih hampir jam 8, dan aku perlu mengerjakan rencana proposal Makasar kita. Si Owner masih menatapku untuk kesekian kalinya. Dia masih penasaran dan aku hanya berdoa, kita akan di pertemukan lain kali. Dalam keadaan yang lebih baik. Dan dalam suasana yang tidak meragukan.

November 2008, aku ketemu dia di kelas IELTS. Nggak pernah janjian. Kita sama-sama mau sekolah di Inggris. Di jurusan yang berbeda dan kita sudah mengalami hal-hal yang baik menurutku. Dirinya bisa tersenyum dan percakapan di kelas, aku tidak pernah menghayal karena aku tidak terlalu mengingat hal-hal diluar kebiasaanku. Aku mengatakan yang aku punya. Dia suka memandangiku seperti biasa dan sebelumnya. Kali ini yang keluar dari mulutnya, “Anggi banyak ketawa-ketawanya”. Aku punya penilaian terbalik kali ini.

Dari pertemuan tahun 2000 aku dan dia dalam suasana bermain – aku cekikikan main petak umpet. Pertemuan berikutnya – aku kalem dan ngomong yang perlu-perlu saja. Dan saat ini, dipenghujung tahun 2008, suasana belajar yang agak tegang seringnya aku melihat dia produktif sekali duduk untuk berhadapan denganku agar bisa melihat apa pun yang terjadi padaku. Beberapa kali saja, dia duduk di sampingku. Seringnya, kulit kita saling menempel untuk saling menghangatkan, kadang bahu kita yang saling bersandar. Tangan kita sering juga sibuk membolak-balik halaman, kadang siaga dengan soal listening. Beberapa kali mencuri nilai target kita yang juga sama, 7.0.

Waktu hujan yang pernah membasahi bajuku dari atas hingga sepatu-suatu sore, arah matanya pernah aku tangkap – dia khawatir aku masuk angin. Aku pun tau. Betapa banyak yang ingin dia ungkapkan dari sorotan matanya. Aku hanya terdiam untuk memahami telepati jarak dekat kita. Waktu seringnya aku telat, dia selalu on time dan mengikuti pelajaran dengan seksama. Dia mengkhawatirkan progressivitas nilaiku significant dengan target. Aku hanya menjalani dan perlu teman belajar. Temanku di kesaktria-sembilan matahari, ada waktu di hari sabtu, bersama beberapa teman-maunya dia, kita tanya-jawab. Dia akhirnya tau kosan-ku, dia mengantarnya tanpa diminta dan tidak direncanakan. Sebelum sampai kosan Adi mengajak aku makan malam bersama di warung burjo Sadikin. Dia tidak membiasakan kita makan banyak malem-malem. Aku menerima saja.

Dan ketika dia pergi Januari 2009, hatiku cemas menunggu kedatangannya. Aku tau, ini bukan perasaan biasa. Dia mengetahui harapan 2010 kita. Dan kita sama-sama mempersiapkan kedatangan saat-saat itu – bagiku akan tiba saatnya – anganku terasa indah pada saatnya nanti :)



{December 14, 2009}   Perasaanku

Aku semakin tidak peduli dengan keadaanku. Oh, bukan pilihan yang baik sebenarnya. Aku jenuh dan sedih memikirkan hari-hari sedang kulalui ini. Aku anak pintar kata orang. Aku dibawah tekanan, menurutku. Aku jenuh.. aku inginkan potensiku pemanfaataannya secara nyata.

Rutinitas kantor bikin aku perlu ruang untuk bereksplorasi. Aku merasa hanya untuk membunuh waktu. Keadaan beda umur atau suasananya terlalu banyak gossip yang seliweran membuatku sering bertanya ucapan mana yang harus kupercaya? Gosip seliweran atau kenyataan? The Power of Mouth berlaku disini. Aku perlu teman untuk berbagi. Aku inginkan itu saat ini. Cross-cek masa lalu, emang seperti ini begini keadaannya? Atau..  Ada teman yang berbeda dengan lingkungan kantorku, kurasa penting. Teman yang bisa diajak mengulum senyum dan tertawa bersama. Teman yang mengisi hari-hariku. Aku inginkan saat ini..

Tanpa malu dan sungkan, aku mengajukan diri untuk berkenalan dengan teman pria seorang teman, tetangga kamar mandiku. Seringnya, aku mendengarkan mereka saling berbicara panjang lebar dan aku suka dimotivasi oleh teman seperti itu. Dia seorang pria. Kejadian itu tahun 2006. Aku merasa, betapa bahagianya pertemanan seperti itu. Namun, apa yang dapat aku lakukan untuk berkenalan dengannya? Wah, mereka hebat sekali. Minta dikenalin ah. Kalo temenku hebat dan berbaik hati, aku akan berada di lingkungan orang-orang hebat. Aku suk a sekali.

Waktu berjalan dengan lambat. Aku merus merasa dibawah tekanan. Kenapa orang-orang di kantorku, hobi sekali bicara seenaknya. Bukankah omongan orang tua ada benernya? atau orang berkata demikian karena sikapku? masa lalu buruk mereka? Betapa risihnya perasaanku diperlakukan seperti ini.

Pembuat kebijakan kantorku seseorang yang keibuan, namun bisa terpengaruh oleh keadaan. Cukup kejam untuk urusan potensi. Hanya beberapa orang yang beliau percaya, tawaran sesekali datang padaku. Temanku diluar sana selalu sulit berhubungan dengan “orang-orang pemerintahan”. Seringnya aku merasakan juga.

Yang aku tau jaga mulutmu ketika berbicara. Kata-katamu harimaumu. Aku resah. Aku merasa salah masuk kantor. Atau perasaanku terlalu halus, maksudku sensitif? Duniaku penuh dengan senyum, tegur sapa manis. Bukannya basa-basi. Senda gurau aku butuhkan namun pada pembicaraan yang topiknya umum, kadang aku suka senyum-senyum sendiri juga.. di depan monitor ketika sedang berbicara dengan temanku. Aku ekspresif.

Tahun 2007 akhir, aku mendatangi teman pria yang selalu kuharapkan kedekatannya. Kenapa dia cuma berani menatapku lama? Memperhatikanku dan meminta diperkenalkan.. atau aku sebagai tamu seharusnya aku yang meminta diriku memperkenalkan diri? Hingga akhirnya seseorang memperkenalkan kami. Dia memperhatikanku dengan seksama dengan detail memperhatikan bahasa tubuhku, selalu memperhatikan,, arahnya tertuju ke arahku.

“Pacaran wae”

Duh, kok dibilang begitu sih? Apakah dia tipe orang yang mudah pindah ke lain hati? Mudah sekali dekat dengan lawan jenisnya? merasa hatiku… perih. Aku salah perasaan? Orang yang seperti itukah dia? atau karena pekerjaannya? Aku ingin mengenalnya dulu, pada beberapa kesempatan atas waktu specialku.

Persiapan IELTS November 2008, mempertemukan kami untuk persiapan sekolah.

“Mau kuliah kemana, Gi?”

“Insya Allah ke Inggris”. senyumku lebar sekali.

“Kamu?”

“Sama” sambil menatapku dengan seksama.

Aku mulai nyaman berada di dekatnya. Seringnya, kami duduk berdekatan. Setidaknya 1 minggu pertama. Kemudian beberapa hari. Dia orang yang menghargai waktu les. Dia hanya sekali datang terlambat. Kemudian, dia berganti tempat duduk, mengambil duduk yang selalu berhadapan denganku. Di kelas, aku seringnya melontarkan jawaban-jawaban diluar prediksi dan seringnya suasana kelasku hidup.

Aku semangat sekolah ke sana. Aku merasa hidup. Hidup untuk hidup. Aku merasa kembali menjadi diriku sendiri. Aku mensyukuri pertemuan kami. Aku tidak percaya ketika kami sama-sama menuju Negara yang sama, dan..  Yang membedakannya adalah, jurusan yang kami ambil, aku usaha mendapatkan kesempatan sekolah karena status kantorku di pemerintahan. Sedangkan dia sekolah untuk sebuah perusahaan. Dia tidak menyebutkannya namun aku melihat nada harapan nada optimis namun ada sedikit mimpi untuk jadi kenyataan.

Ujian IELTS diprediksi akhir November. Aku seringnya datang terlambat. Sering hujan. Namun aku bersyukur ada teman yang berhasil aku ajak les bareng. Satu kantor, teman cerdas. Dan akhirnya berkesempatan mengenal pria itu.

Pesta perpisahan kelas akhirnya terjadi. Aku merasa dia sudah menjadi bagian dariku, namun sifat mudah dekat  yang aku khawatirkan, aku cemburu dan selalu nantikan selalu perkembangannya. Dia bilang Dia sedang berproses. Dia mengirimkan sinyal yang kurang lebih hampir.. maksudku satu frekuensi. Sekecil apapun respon dari dia terasa besar bagiku, dan aku menunggunya.

Dia bilang, dia mendukungku Apapun itu, kadang merasakan ke-khawatir-an. Sesampainya dia di Inggris, dia mengirimkan SIGN yang manis. Aku jadi tau perasaannya. Dia ingin selalu bersama dan selalu menunggu pertemuan kita. Aku menantikan komentar-komentarnya. Namun, dia menunjukkannya secara umum. Melalui statusnya. Kata-katanya di social network selalu kuperhatikan.

Aku tau video itu kisah kami. Komunikasi nggak lancar namun saling menemukan akhirnya untuk direalisasikan. Aku harus bersabar untuk kali ini. Setahun setidaknya. Tidak tau apa yang akan terjadi dengan kami. Aku berusaha untuk mencintai hanya untuk dirinya seorang.

Jauh – dekat, kadang aku menerima penolakan. kadang ajakan.  Dan seringnya dia sibuk dengan tugas-tugasnya. Dia bilang tugasnya padet. Program setahun,, di Australia aja 2 tahun. Dan rahasia dibalik itu semua. Menunggu dan berusaha sebaik kewajaran proses ini. Komunikasi sinyal kuat terus kami bina.

Januari dan Desember.. satu tahun? Jarak waktu yang bisa jauh. Bisa dekat. Komunikasi langsung baik dengan percakapan maupun sinyal tersirat.



{November 22, 2009}   Agree or Disagree

Kemaren, waktu lagi jalan-jalan di sebuah pusat penelitian. Aku ketemu senior…senior banget sih, mbah-nya mungkin. Beliau jadi baca blog-ku. Aku bukan mau pamer atau narsis, aku hanya ingin berbagi dengan siapa pun, yang peduli dengan kisahku. Waktu itu nulis mengenai kue cinta. Haha… tulisan itu kadang emang menjadikan orang yang membacanya terharu biru. Bukan karena aku mengalaminya, cuma aku harus peduli dengan perasaan hati seorang pencinta. Cieile.
Aku tidak bisa memaksa perasaan yang kadang jatuh tiba-tiba. Atau mengatur harus jatuh cinta sama siapa. Atau memilih sosok yang sebenarnya dari dulu ingin dihindari, nih cowok cool banget.

Aku ketemu sama “sang Jaka” itu akhir tahun lalu. Tahun 2007. Aku pernah ketemu dia pertama kali waktu ketemu di sebuah warung makan, cuma nunggu temennya, temenku juga. Nggak sengaja.

Secara fisik, anak manis, sukanya pake baju hitam, alisnya tebel, tatapannya itu bo, kayak cyclpos. Dinding hatiku yang beku, dengan tatapan matanya, mencair perlahan.

Kurasa dia bukan tipe cowok oke, yang kulihat adalah dia tidak suka mempermainkan hati wanita. Aku hanya menangkap itu waktu itu. Terus dia hilang. Aku nggak tau harus alesan apa biar bisa kontak dia. Duh, muter otak nih. Ada suatu tuntutan pekerjaan, akhirnya aku mau kontak dia. Aku bilang mau kenal sama kakaknya, yang persis banget temenan soulmate sama temanku yang ngenalin aku di warung makan waktu itu.

Trus aku dikasi nomer HP adiknya, si cowok cool Jejaka Oke malem itu.

Ouw..hatiku berdebar tak menentu.
“Nggi, coba kontak si X (masih rahasia ah..) dia udah biasa jadi astrada juga. Soal budgeting dia udah nguasain juga. Si A*** sibuk, dia mau ke Belanda. Nggi, gw bahagia banget.. sama temen gw. Gw mau curhatan dulu ya.” Temenku percaya kalau aku amanah sama semua yang sudah dipercayakan.
Yang aku lakukan saat itu adalah memendam keinginan untuk nelfon nomer ini. Alasannya, belum yakin aku sudah berani untuk salting ketemuan sama dia. Gw kalo suka sama orang, kadang-kadang ngomong aja suka ngk lancar. Kalo ngomong nggak nyambung, bisa gawat nih urusan. Mana masih jadi bawahan, mending menata hati dan menata pikiran dulu, biar sinkron. Kecepatan berpikir itu penting, tapi kalo mulut salah ngomong, bisa ketauan.

Day by day.. aku akhirnya ketemuan sama dia, alesannya follow up mengenai ludruk di akhir November 2007 haha.. (two years ago…) Aku bilang aku punya banyak ide untuk di-share nih. Masalahnya, gw nggak bisa kerja sendiri. Aku adalah mahluk sosial yang perlu tim khusus untuk merealisasikan ide brilliant-ku itu.

“Kemaren aku ketemu mas G***n, plafon biayanya tinggi banget nih. Belum lagi jarak ke Jakarta, luar kota dan dengan profesionalisme beliau sudah dipastikan dananya cukup besar merealisasikan ide ini,” punya solusi untuk masalah ini?” kata-kata itu keluar satu per satu dan cukup mengalir normal. Aku melihat tatapan coolnya. Kata-kata solutif yang dia keluarkan, membuatku merasa ada pendamping yang bersama kita bisa. Aku yakin proyek ini akan berjalan mulus. Aku punya bahan, skill dia yang bagus dan sudah teruji, kami menunggu moment yang tepat.

Sejak saat itu hubungan kami jadi cair dan saling mengaliri pertemuan-pertemuan kami selanjutnya. Aku melihat dia dari hati, dan mengena ke hati juga. Apakah dia pahami atau tidak, kadang keluar dari kata-kata nya yang terucapkan. Aku tau dia bukan tipe pria yang mempermainkan perasaan wanita. Seorang wanitaakan tenang di sampingnya. Dia tipe saintish g**logi yang ngerti dengan seni mengemas keindahan. Pastinya banyak wanita yang mengaguminya.

Cewek-cewek remaja mana nggak akan suka, yang matanya bolor sekalipun akan bilang dia charming. Aku puas waktu dia nanya, “Akhir tahun baru kemana?”tanyanya. Aku menjawab,”Pulang ke Jakarta. Papaku bilang pulang ke Jakarta. Beliau membujukku. Papaku khawatir aku sendirian di Bandung”. Dia mengucapkan sesuatu yang tak kusangka, “ Kenapa takut sendirian di Bandung, kan bisa gabung sama aku di Bandung, aku sudah menyiapkan beberapa acara disini. Aku sudah beli beberapa kardus kembang api dan air mancur. Nanti malem tahun baruan kita ke loteng”.

Wanita mana yang tidak leleh mendengar ajakan itu. Pipiku merona merah sekali. Ajakan seperti itu mana mungkin kutolak. Aku menyukai ide sederhana yang indah itu. Hubungan kami berlanjut dan aku sering menelfon atau menerima telfon darinya. Yang aku rasakan saat itu adalah doaku terjawab sudah. Ada pria manis yang merespon perkenalanku dengan baik. Yang aku lakukan sejak saat itu adalah memantaince hubungan kami. Dan aku menganggapnya sebagai teman seperjuangan, kita punya visi yang sama dan cukup nyaman.

Ya.. hatiku berwarna ceraaah sekali sejak aku merasakan hadirnya perasaan itu. Aku mungkin terlalu lugu. Dia mengerti perasaanku walaupun ada sisi lain dari dirinya yang membuatku waspada.Ada yang bilang, “

“itu siy.. biasa aja,Gi”. Jangan direspon berlebihan-kah?

Aku bersyukur akhirnya aku menemukannya. Aku mengalami lagi perasaan itu. He or the older brother? that i know.. too, specially quite close on november 2008. The guys that im dreaming on 2006.. and going on” intensive” on 2009 still presnt. I celebrate it things today.

What happened with agree or disagree..



{June 1, 2009}   Teman SD ku

Suatu hari aku pergi bersama teman-temanku, kami masih SD dan masih senang bermain. Aku tidak tahu mengenai cinta. Memandang anak-anak pria, aku sebal !!! dengan mereka. Biasanya mereka suka main bola, bau matahari. Baunya mungkin belum seberapa, dia hanya saja, melihat mereka capek. Istirahat cuma 15 menit aja, maksa main seru dan ketika masuk kelas, mereka sering kali terenggah-enggah. Sambil selonjor lemas, kurang menghargai guru yang akan mengajar di kelas. Belum lagi mereka suka cekikikan.

Tapi bagiku, itu tidak mengganggu. Mereka itu lucu. Aku memang menyukai aktivitas seperti mereka, sayangnya aku anak manis yang jaim kalo di kelas. Padahal kalau mereka tau,,, aku suka main permainan mereka dengan adikku di rumah haha.. Reputasiku selama ini bisa hancur nanti. Aku kan jaim haha…

Reputasiku di sekolah adalah putri lilin. Nggak bisa kena matahari, bisa meleleh nanti. Kemana-mana aku pake payung. Situasi ini adalah untuk mengobati rasa ibakupada ibu. Aku tidak mau jadi item lagi, terlihat dekil. Di sisi lainnya.. cewek cantik itu putih-bersih. Hobiku dulu adalah main layangan, main panas-panasan cuek aja. Dan hasilnya adalah… my skin looks tent than a boy.

jadi.. untuk menebus rasa bersalah itu aku pake payung kemana aja. repot dikit. Aku memperhatikan teman-teman seumuranku.. mereka setuju, pake payung jika kepanasan. Cuma kalo buka tutup payung repot.

Dan dalam sekelompok permainan teman, ada berbagai macam sifat mereka. Salah satu temanku sangat menyukai seorang teman laki-laki yang charming. Padahal menurutku anak itu biasa saja. Aku suka menertawakan dia, suka pergi dan pulang les bersama, dan aku selalu dicemberutin kalau kali bersamanya.

Sejak aku lulus SD, aku tidak pernah ketemu dia lagi. Dan hingga aku bekerja.. 20 tahun kemudian. Situs pertemanan mempertemukan dan bisa saling mencari. Aku ingat temen-temanku dulu. Aku bisa merasakan mereka akan sangat gembira menemukanku. Banyak cerita yang ingin aku bagi. Aku ingin mengetahui kabar baru dan selama ini mereka mengerjakan apa saja. Banyak sekali hingga aku ingin menyapa dalam setiap kesempatan online.

Dan teman wanitaku itu masih suka sama teman laki-laki yang dulu pernah aku kenal. Dia masih menanyakannya. 20 tahun.. sudah banyak yang berubah. Teman pria itu dulu sempat satu SMA denganku, SMP juga kami bersama. Ayahnya sering berpindah-pindah kota. Waktu SMP aku ketemu dia di kelas 1 dan di SMA aku ketemu dia di kelas 3. Selebihnya, kami seperti baru berkenalan. Aku tau banyak yang kami lewati. Dan aku masih melihat sosok dia sewaktu SD. Wah lucu sekali. Dan kami sudah mempunyai pasangan masing-masing. Dia malah sudah mempunyai bayi yang sangat lucu.

Aku akan menjawab, ya.. teman kita itu sudah mengalami kemajuan dan bahagia.



et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.