Gloucewriter’s Weblog











{December 22, 2011}   selamat hari ibu

Ibu.. ibu.. begitu sebutan itu abadi dalam panggilanku pada beliau yang disebut ibu. Sejak aku dilahirkan, ibu membuatku spesial. Beliau menjadikan aku satu-satunya anak perempuan sehingga aku merasa ibu sangat sayang sekali padanya. Bukan karena aku sedemikian istimewanya sehingga aku bisa bagai ratu menjalaninya. sama sekali tidak. Justru keadaanku membuat beliau hanya berbagi denganku. mengenai hidup, mengenai arti penting menjadi wanita, dan dan bagaimana bertenggang rasa dengan para pria.

Cantik, begitu kata banyak orang. Tapi kadang ada benarnya kata mereka. Tampak cantik bukan hanya dalam balutan kain indah dan model-model baju yang santun. Ibu selalu memilihkan apa yang akan kupakai. Beliau mendandaniku bagai putri anggun. Beliau suka caraku menerima hadiah. Mukaku yang keputih-putihan akan merona dengan semburat warna merah jambu. Sambil memeluk ibu, aku selalu berterima kasih seraya memeluk tubuhnya tanpa melihat model yang baru saja beliau berikan. Hadiah ini akan sangat berharga jika aku tau ibu yang memberinya. Kecupan hangatku mendarat di pipinya.

Kamu stabil. Iya, tubuh indahku ini bertahan. Ibu selalu menjaga tubuh indahku. Saat aku kecil, aku masih ingat, beliau tidak melewatkan jam makanku. Belum tenang rasanya jika ia tau belum menyuapiku. Makanan itu tidak sulit juga masuk mulutku karena aku selalu suka apapun yang beliau masak. Setelah aku mengenal taste, aku makan sendiri semua masakan itu. Dan hingga masa sekolahku, beliau tidak pernah membuat perutku keroncongan. Sebelum pergi, harus makan dulu. Nanti kamu bingung cari makan di mana. Walaupun banyak jajanan yang ada di kantin, kotak makan temanku selalu ada di dalam tas. Seringnya perjalanan jauh, aku tidak pernah meninggalkannya. Ibu selalu senang jika makan itu habis dan uangku bisa ditabung.

Kamu jarang menangis? sebenarnya enggak juga. Aku sering dimarahin ibu. Adikku yang buntet jaman masih kecil, sering aku peluk-peluk, cubit-cubit pipinya, karena ibu memberiku adik yang menggemaskan. Dia lahir besar sekali, seperti boneka hidup. Dan sejak saat itu aku tau dia benar-benar anak manis, dan seringnya aku berbagi dengannya. sering berantem- aku jadi tau betapa khawatirnya dia, sering ledek-ledekan – karena aku tau kita punya cerita yang mirip, sampe akting nyari perhatian ibu. Dan kerenanya juga aku belajar menjadi wanita. Begitu dalam ketika diam. Jika ibu sedang kerja, aku mengurusnya, menjaganya, melindunginya dari anak-anak usil. Dan ketika ia sudah menjadi pria dewasa, dia melindungiku dalam segala pengorbanannya, dan hal-hal yang tampak jauuuuh yang terlihat dari kakakku.

Berbeda dengan kakaku yang pendiam dan ekpresinya agak berbeda. Aku pernah dia perhatikan. Waktu kita masih jadi anak-anak. Kedua bocah ini jarang di rumah. Bermain-main ke tempat yang jauh adalah mauku. Aku jarang ditinggal sendiri, kita saling berbagi kebahagiaan di luar sana. Walaupun tak jarang dia ada di rumah, seringnya aku liat dia mengerjakan tugas. *Berbeda denganku, kalo lagi ga mood, kerjaan yaaa ga dikerjain* Soalnya gue lagi ga fokus. Liburan, ya liburan aja. Ntar kalo udah mau ngerjain tugas gue juga kuat bisa begadang (cuma kejadian ini seringnya beliau nyontohin, ngerjain tugas begini nih!). Tanggung jawabnya besar, sebagai contoh buat adik-adik kata ibu. Namun ketika perpisahan kita menjelang usia balik-ku, aku merasakan berat. Cukup berat, bisa dibilang ini trauma pertamaku. yang sama sekali tidak aku inginkan, terlalu mengejutkan. Hingga aku tidak terlalu lama memikirkan apa itu perlakuan shock theraphy. responku cepat. daya adaptasiku juga berproses.

Dunia berubah. Aku tidak lagi bisa perang bantal, atau menggunakan celana pendek, merasakan boys style yang hore-hore. Adegan superhero yang biasa kita lakukan jadi terbatas. Dan yang lebih penting lagi, kita terpisah hingga 40 km dari rumah kita. Orang tua kita tidak lagi bersama. Pengadilan memutuskan kita berpisah di hari-hari yang biasanya kita lalui bersama tiap detiknya. Trauma itu membuatku kaget. Dan seperti merencanakan yang indah, kadang luka itu membuatku dewasa hingga saatnya.

Boys and Girls. Owwhhh.. kenapa mereka bisa bilang begitu. Diam aja deh hahaha.. miss simple ini kalo mikir sambil ngomong. Ga usaaah ditanya mau apa, semuanya juga bakal diomongin, begitu katanya. walaupun kadang ga semuanya bener. Tapi setidaknya kamu tau apa yang ada dipikirannya. Kalo lagi diem, dia lagi nyusun kata-kata buat mbales. Yang lainnya, ya jaim dong.. gue cewek normal tau… Tapi elo akan nyadar kan diem pas lagi sebelah-sebelahan gini juga enak. Ga usah pake ngomong, kita menikmati saja apa yang ada dihadapan kita. Kalo lagi cuap-cuap, ngomong suka-suka (ngomong asal) sambil ha-ha hi-hi, atau biasa aja deh.. Hidup itu udah berat, ga usah dipikirin terlalu kompleks deh sama hal-hal ga penting. Mending kita liat indahnya warna-warni dunia sekitar kita itu, begitu hiburanku padanya.

Ngerjain tugas udah ngurangin jam maen gue. Mending dikerjain aja deh. Entar kalo pusing kita refreshing aja. Mari jalan-jalan.. Ibu adalah orang pertama yang dapet tawaran ini pertama kalinya, beliau dalam muka bersahajanya itu, bawaannya pengen jitak mulu. Anak ini berbeda. Ketawaaaa mulu, belajar dewasa nak… begitu katanya. Lha, aku begini kan ga sering-sering. Di luar rumah seringnya jaim. Kakakku tercinta sering bilang, jangan kebanyakan senyum! senyumnya ke sini aja. Beuh..mahal aja nih aturan. Hee.. iya, kita emang punya private time yang indah. Tapi kan ga semuanya juga gue pendem, kurang ekspresif gitu kata kebanyakan orang yang liat muka judesku.

Mahal. Begitu juga perlakuan ayahku. kamu itu seringnya dibelain papa. kalo papa pergi-pergi, kamu sering dibawa kan? heee… itu ga bisa aku bagi-bagi juga. Cuma, karena tingkahnya juga aku jadi belajar seperti apa laki-laki sebenarnya. Papaku jadi tulang punggung keluarga. Masa remajanya dilewatin dengan kerja keras mencukupi nafkah keluarga ayahnya. Saudaranya sering ngiri dan di cap bandel sama Uti. Uti juga yang seringnya sayang sama aku. Yang lainnya aku ga suka, didikan keluarganya bikin beliau punya masalah kejiwaan yang kompleks. Aku capek setelah tau.

Setelah semua anugrah yang aku terima, cuma keluargaku ini yang bisa membentuk aku menjadi yang sekarang. Kadang menangis itu penting, ketemu temen yang dicurhatin karena ketololan kita jaman dulu juga sering (udah ga keitung sebenarnya), jadi wanita-cantik-anggun yang selalu ditunggu di rumah juga oke, dan yang pasti ibu selalu tau semua ceritaku. Dan betapa beliau menyukuri apapun keadaanya. Anak manisku selalu ada dan setia setiap saat.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.