Bismillahirahmanirahhim
Alhamdulillah, kami dapat menghadirkan buku yang penuh dengan hikmah ini, yaitu Wanita Mengapa Merosok Akhlaknya, ke hadapan Anda
Disadari atau tidak, pada zaman ini telah terjadi perubahan tata nilai kehidupan manusia, baik berwujud modernitas maupun pluralitas. Akan tetapi, ekses yang ditimbulkan dari wujud-wujud zaman tersebut lebih banyak pengaruh negatifnya dibandng positifnya.
Ew~ menohok. Entahlah, mengapa akhirnya buku dengan judul tajam setajam syilet ini mampir dihadapanku. Hmmm sebenarnya aku yang menghampirinya. Saya mengaku. Siang itu saya bersama kakak perempuan cantik – lagi-lagi aku ngaku-ngaku miliknya – pergi ke toko buku menemaninya.
Syafitri, kusebut namanya. Sejak sebulan ini, aku jadi dekat dengannya. Usianya, seumur dengan abangku. Mereka mungkin tidak pernah saling kenal, namun kesamaan usia mereka, aku menjadi sangat dekat dengan Kak Fitri, aku memanggilnya. Rumah kita terpisah oleh jalan dan lapangan bola yang sangat besar. Di hook lapangan bola itu, biasanya kita saling tegur. Tegur sapa ini, seiring dengan langkaku untuk berjama’ah di mesjid komplek kami. Dan saya seringnya mengenakan baju asal-asalan, yang penting sopan dan sering juga mengenakan mukena lengkap dengan sarungnya. Alasan malu karena tidak berpakaian baik dan rapih, kututup saja bagian tubuhku yang membahayakan pandangan orang.
Selesai bulan puasa di separuh usiaku akhil baliq, aku berniat pake jilbab. Entah karena budaya keluarga atau saya merasa teduh dengan memandang mereka. Usiaku 20 tahun saat itu. Seluruh saudara kandungku laki-laki. Aku ditakdirnya menjadi satu-satunya. Namun, kedua orang tuaku memberikan seluruh pengaruh wanita manis, bisa dibilang berwajah teduh, sopan dan perkataan-perkataan menyejukkan. Saat itu bertepatan dengan liburan semester. Aku rindu mengenakannya, sejak kelas 4SD, aku merasa menjulang tinggi dan cepat dewasa dengan ukuran tubuhku.
Dan ibu menasehatiku, “kalo pake jilbabnya sekarang, nanti ga bisa renang lagi..” dan aku mengiyakan. Aku suka sekali main air. Entah karena tidak berkeringat saat olahraga atau seringnya aku pergi bersama abang kesayanganku? Dan aku hampir saja lupa dengan niat mengenakan baju tertutup.
Aku rutin menggunakan baju seumuranku, kalau ke rumah nenek dan ke mesjid, pakaianku lengkap. Dan sejak keinginan baik itu ada, jika ada yang datang ke rumah, aku selalu saja repot menggunakan jubah. Ukurannya, longgar, tangan panjang dan menutupi lekuk tubuhku. Hanya rambut panjangku yang terurai selengan saja yang terlihat. Setelah orang itu pergi, aku melepaskannya, dan mulai menampakkan baju dinasku agar dapat bergerak bebas.
Di toko buku, aku membuka lembaran-lembarannya satu per satu. Wanita oh wanita.. betapa banyak peraturan buat kami. Namun, adabnya memang begitu selama ini. “Sebagai seorang ibu, dia harus menjadikan anak laki-laki sebagai pria sejati. Membiasakannya dengan perbuatan dan sifat-sifat mulia, menanamkan dalam jiwanya sifat sabar, tekun, serta cinta kepada agama dan tanah air.
Sedangkan dalam diri anak perempuannya, seorang ibu juga harus mampu menanamkan sifat kewanitaannya yang lemah-lembut, akhlak mulia, kepribadian yang bersih dan mempunyai rasa malu.
Pantas saja, pria-pria dirumahku tampan. Mereka memuliakanku dan sabar. Setiap hari aku diantar dan dijemput. Mau kemana-mana ditemenin, kecuali mereka ada urusan. Kalau saja aku mau main, selama mereka juga suka, kita selalu bersama. Kalau ada temenku yang datang, seringnya mereka saling berkenalan, dan menjadi kumpulan teman bermain juga.
Sedangkan sepupuku yang perempuan, mereka bersahabat denganku. Mereka setia dalam menemaniku. Lembut dan jarang sekali teriak-teriak kayak kenek metromini. Dan yang mengherankan, pakainya Putri Anggun dari atas sama ujung kaki jadi fenomena tersendiri. Menyenangkan jika dilihat tetapi tetap sederhana. Jarang sekali terlihat mengenakan assesoris. Dan ga keliatan repot. Sederhana namun sopan.
Kak Fitri tidak terlihat. Mungkin ada di rak buku lainnya. Saya melanjutkan membalik-balik halaman lainnya. Takwa adalah sumber kebahagiaan serta pangkal dari semua kebaikan dan keberkahan. Taqwa menjadikan manusia sebagai tempat bersemayam keutamaan dan sumber kasih sayang dan keadilan. Kalimat Rabbukum ‘Tuhanmu’ mengisyaratkan kepada penyebab ketaqwaannya manusia karena Tuhan adalah pemilik segala nikmat, kecil maupun besar. Tuhanlah yang menyebabkan manusia dapat memiliki sesuatu. Tuhanlah yang mendidik, membimbing, dan memberi rizeki. Karena itu, manusia berkewajiban sekali untuk takut kepada azab dan siksaan-Nya serta mengharap pahala dari-Nya.
“Udah deh..pake aja jilbabnya” begitu gumamku. Dan kapan atau gimana-gimananya, liat entar. Lagi pula, kumpulan bajuku sudah 2 lemari sendiri. Dan ada baju ibu yang bisa dipinjam. Ukuran badan kita sama. Paling, ada berbeda antara bahu dan pinggul saja. Namun kenyatannya tetap nyaman dan tinggal memilih motif yang aku suka.
“Anggi, sudah dapet bukunya?”
Tanpa berpikir panjang, buku karangan Ukasyah Athibi itu terbawa hingga ke meja kasir. Kak Fitri juga membeli beberapa buku. Saya beli satu saja, lagi pula, jarang sekali saya membeli buku 427 halaman. Karena saya cepat sekali mengantuk melihat deretan tulisan tanpa gambar. Dan sekalinya membaca, cepat sekali saya tertidur. Dan sentuhan Nek Aki bilang, “kalo ngantuk tidur ke kamar, gih!” hee.. agak nekat emang beli buku ini. Saya penasaran dengan sinopsisnya. Emang Akhlak yang Merosot itu seperti apa siyyy? Kayak rok aja, merosot?
Di perjalanan pulang, buku tebel itu mengilhamiku untuk segera berhijab. Puasa 7 hari sudah, ba’da magrib ada lebaran ketupat di Mesjid. Kak Fitri nih, udah bungkus-bungkus kado buat door prize. Saya juga mengahadiahi buku setebal kamus untuk diriku sendiri. Dan besok pas pergi ke kampus, akan ada anak DKV’99 yang pake jilbab. Kejutan oke! Begitu gumamku. Dan yang pasti, satu semester saja mereka mengenalku pake jins belel, kaos oblong dan sendal jepit ke kampus. Ganti semester, ganti tampilan. Yey!
Magrib itu, Nek Aki yang pertama kali bilang, “wah, bagus..bagus..” sambil ngangkat 2 jempolnya. Kenapa ya? bukannya biasanya begini. Beliau bilang, kali ini udah rapet. Dan saya senyum-senyum saja, sambil pamit cium tangan. Assalamu’alaikum. Begitu kata perpisahanku. Buka pintu rumah, dan buka pintu pagar, saya langsung ngeloyor pergi ke mesjid mau makan enak. Kak Fitri akan bilang apa ya? he.. liat Entar~
Ada kak Amah, ada kak Upi dan Kak Fitri yang biasanya udah nunggu di mesjid. Sepedaan sore-sore tadi ga sempet, udah capek jalan2 ke toko buku. Dan ketetapan hati yang penting.
“Eh..Anggi, udah rapet.” Kak Amah yang bilang duluan. “Subhanallah” kak Fitri sambil mengaminin tampilanku berserta kedua tanggannya. “bener nih, gi?” sambil agak kikuk malu-malu, saya bilang, “cocok ga?” sambil memutar dan bergaya ratu pesta, aku ingin memperlihatkan dari depan hingga belakang. Pakaian Taqwa. Halah~ kayak serius aja (ngomong asal). Iya nih, mulai hari ini. “bener ya.. ga dicopot lagi? Udah cocok.” Sambil meraih kedua tangan kan Fitri, aku bilang, aku udah baca bukunya. Yang tadi sore..
Sejak pergantian waktu, saat itu, saya mengenakan baju panjang tertutup, lebih dari lutut dan hanya menyisakan telapak tangan serta wajahku tanpa sembulan rambut. Kalo ga begini, akhlaku ga akan berani. Layaknya test drive mobil, harus berani dulu, keyakinan ngikutin nantinya. Dengan tampilan tertutup begini, ga akan ada yang siul-siul saat aku lewat. Dan ga ada lagi ucapan “salah nikung” yang kukira ucapan salam manis buat cewek manis.
Pergi-pergi juga jadi aman. Kalau Anda sopan, Kami segan – slogan yang ada di Metromini jadi berlaku. Ga rugi pokoknya. Paling ada yang sedikit sirik aja. Saya akan punya baju baru. Dan gaya baru. Gaya baju tumpuk-tumpuk ala japanishiro akan masih ada, tapi ukuran panas di Jakarta, lumayan anget. Yang lainnya, kalo nanya, nanti dijawab deh~
Bulan itu pun berlalu. Saya sudah mulai terbiasa. Dan akan segera menggenapkan usia 20 tahunku. Nek Aki sudah tidak ribut lagi mengenai akhlaku yang seringnya nyelenek. Sudah agak aman, sudah pakai jilbab dia sekarang. Dan sepulangnya dari bandung, abang kesayanganku ujian akhir. Mau beli baju juga sebenarnya. Kota fashio kayak bandung, pasti ada yang “lucu-lucu” modelnya. Sambil bawa belanjaan kayak ibu-ibu baru pulang dari pasar. Saya pulang ke rumah. Kita pesta makan besar, berdua aja sama Nek Aki. Dan keesokan harinya, orang tuaku juga dari luar kota, selama aku pergi ke bandung, 4 hari kerja.
Adikku minta gambarin anatomi. Jam 2 pagi, saya sudah melek buat gambar-gambar. Besok kuliah jam 2 siang. Hoaaaah~ sret..sret.. morning sickness. Sambil menunggu subuh, saya melukis liuk garis anatomi pencernaan sesuai permintaan. Dan terdengar suara pintu kamar Nek Aki, sudah hampir subuh ternyata. Saya ingin rebahan sebentar. Biar agak dingin tubuhku. Selimut bambu ini, menyejukkan. Rebahan 15 menit saja, pikirku.
Sudah 10 menit, kenapa suara pintu kamar mandi ga ada bunyinya, ya? Suara pintu kamar ibu terbuka barengan pintu kamarku. Ibu mau ke kamar mandi juga pikirku. Dan tak lama, suara ibu memanggilku, “Ayo cepat ke sini!”. Aku berlari dan aku mendapati Nek Aki sudah selonjoran di sudut kamar mandi di samping bak. Aku meraba wajahnya, aku lap cairan putih dimulutnya.
Sambil berderai air mata, kami mengantarnya ke Rumah Sakit. Dan dokter bilang, untuk dioperasi, gula darah bapak sangat tinggi, keberhasilannya hanya 50%. Cukup 3 hari saja beliau akhirnya pergi. Dan Aku mendapati jibabku sebagai kado termanis dari sapaannya sebelum pergi untuk selama-lamanya. “Bagus..bagus..sambil mengangkat 2 jempolnya” begitu hadiah ulang tahunku. Dan kelipatan ketiganya di perpisahanku, aku selalu mengenangnya. Langkah berani untuk masa depanku. Di waktu yang sama, saya tidak lagi menatapnya lama. cukup memandangnya beberapa detik, aku siap melangkah untuk langkah-langkah baru
